Bacalah Selalu Lisan Maupun dalam Hati "YAA SAYYIDII YAA RASUULALLAH"

MUQODDIMAH




Silaturahim Maya
 

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali ‘Imran: 103)
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya (tulang rusuk Nabi Adam a.s.) Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu.” (an-Nisaa’:1)

Silaturahim berasal dari kata shilah dan ar-rahiim. Shilah berarti menyambung, dan ar-rahiim berarti kasih sayang. Dengan demikian silaturahim bermakna menyambung kasih sayang. Makna menyambungkan menuju pada proses aktif dari sesuatu yang asalnya terputus menjadi tersambung, dari sesuatu yang asalnya bercerai berai menjadi utuh kembali. Sesuai yang disabdakan Rasulullah SAW., “Yang disebut silaturahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan silaturahim itu orang yang diputuskan silaturahimnya tetapi dia menyambungkan” (HR. Bukhari).
Di hadis yang lain Rasulullah bersabda : “Sambunglang silaturahim kepada orang yang memutuskannya kepadamu, berbagilah kepada orang yang pelit kepadamu, dan berpalinglah dari orang yang berbuat dhalim kepadamu”.( H.R. Imam Ahmad).

Jika batasnya pada kunjungan yang disertai dengan barang bawaan maka pemberian akan menjadi patokan seseorang untuk silaturahim, karena tak jarang orang yang enggan berkunjung dengan alasan tidak ada bawaan untuk yang dikunjungi. Pun dengan saling berjabat tangan, seperti yang biasa kita lakukan di hari Fitri, jika hanya sebatas aktivitas bersentuhan atau berjabat tangan, bagaimana dengan orang yang diberi keterbatasan dengan tidak memiliki tangan.

Oleh karena itu perlu kita sadari bahwa silaturahim tidak hanya sebatas gerak-gerik tubuh tapi pelibatan hati. Dengan kombinasi bahasa tubuh dan bahasa hati ini yang akan menjadi kekuatan untuk berbuat lebih baik dan lebih bermutu. Dari sini terlihat jelas betapa pentingnya menyambungkan tali silaturahim. Betapa tidak! dengan silaturahim akan terjalin rasa kasih sayang dengan sesama manusia bahkan dengan makhuk Allah lainnya. Bila ini terjadi maka rahmat Allah dan kasih sayang Allah pun akan turun dan menaungi hidup kita. Tapi sebaliknya rahmat dan kasih sayang Allah akan menjauh bila tali silaturahim terputus.
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan turun yang di dalamnya ada orang yang memutuskan tali persaudaraan”.

Dalam ayat lain Allah berfirman, Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran (Ulul Albaab).  (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian. Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan (yaitu mengadakan hubungan silaturahim dan tali persaudaraan), dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar Karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang Itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (yaitu) syurga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;  (sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum" (artinya: keselamatan atasmu berkat kesabaranmu). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang Itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).”  (ar-Ra`d 13 : 19-25)

Dalam surah Muhammad 47 ayat 22-23 Allah juga berfirman, “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusahan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan kamu. Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan telinga mereka dan dibutakan penglihatan mereka”.

Rasulullah saw pun memerintakan umatnya untuk menjalin silaturahim dan melarang bahkan mengecam siapa pun yang memutuskannya.. Di antara sabda Rasulullah saw tersebut adalah : “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hormati dan muliakanlah tamumu, barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka sambunglah tali silaturahim, dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, berkatalah yang baik atau kalau tidak bisa lebih baik diam”. (HR. Bukhari)

”Barang siapa yang ingin dimudahkan (Allah) rezekinya atau dipanjangkan (Allah) umurnya, maka hendaklah dia memperhubungkan silaturahim (hubungan kasih sayang).” (HR. Bukhari) “Sambunglah silaturahim kepada orang memutuskankan kepadamu, berbagilah kepada orang yang pelit kepadamu, dan berpalinglah dari orang yang mendzalimi kamu.” (HR. Ahmad).

“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahim”. (HR. Bukhari dan Muslim) “Barang siapa yang memutuskan kekeluargaan, Aku akan putuskan hubungan-Ku dengan dia, dan barang siapa yang menyambungkan tali kekeluargaan, Aku akan mengukuhkan tali kekeluargaannya”. (HR. Muslim)

“Ar-Rahim yang bergantung di Arsy berkata, “Barang siapa menyambungkan silaturahim, Allah akan menyambungkan (berkumunikasi) dengannya, dan barang siapa yang memutuskan silaturahim, Allah juga akan memutus hubungan dengannya”. (HR mutaffa` alaihi).

Dengan tersambungnya silaturahim, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Pintu rahmat dan pertolongan Allah pun terbuka lebar. Semoga Allah memberi kelayakan bagi kita untuk mendapatkan rahmat-Nya atas silaturahim yang kita jaga.

Silaturahmi dapat dilakukan dengan cara mengunjungi saudara atau sahabat secara langsung kerumahnya. Namun jika hal itu belum memungkinkan maka silaturahmi dapat dilakukan dengan melalui surat, telpon, sms, email, dan fax. Dewasa ini banyak media online (dunia maya) yang dapat menghubungkan antara seseorang dengan yang lain misalnya Facebook, blog, Friendster dan lain sebagainya.

Marilah kita saling menumbuh-suburkan silaturahmi dengan sesama yang berlandaskan saling hormat-menghormati, terlebih kepada orang-orang yang telah memberi ilmu manfaat kepada kita, kepada Guru batiniyah kita (Al Ghautsu Hadzaz Zaman RA). Juga menjalin hubungan batiniah kepada Rasulullah SAW dengan berusaha sekuat tenaga melaksanakan segala yang telah disyari'atkan dan memperbanyak sholawat kepada Beliau. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang selalu menjalin shilaturrahim. Amiin...

Yaa rabbanaghfir yasir iftah wahdinaa qorrib wa allif bainanaa yaa rabbanaa..