LARILAH KEMBALI KEPADA ALLAH

Larilah Kembali Kepada Allah photo faringfirrugraveigravelaringllaringh_zpsb9f801c3.gif
Bacalah Selalu Lisan Maupun dalam Hati "YAA SAYYIDII YAA RASUULALLAH"

Senin, 15 Agustus 2011

17 AGUSTUS DAN 17 RAMADHAN


“Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17,”ujar Bung Karno kepada para pemuda yang memaksanya cepat-cepat memproklamirkan republik Indonesia.
“Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, tanggal 16?” tanya Sukarni, seorang pemuda yang menginginkan kemerdekaan secepatnya.


“Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Al-Qur’an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia,”jawab Bung Karno yang insinyur teknik sipil dari ITB itu.
Demikianlah antara lain dialog antara Bung Karno dengan para pemuda di Rengasdengklok sebagaimana ditulis Lasmidjah Hardi ( 1984:61 ).
Tanggal 17 Agustus 1945 (8/9 Ramadhan 1364 Hijriah) memang tidak bertepatan dengan 17 Ramadhan yang diyakini oleh kebanyakan ulama sebagai hari pertama turunnya Al-Qur’anul Kariim (Nuzulul Qur’an), namun tanggal atau angka tersebut dianggap suci atau keramat yang dipilihkan Allah SWT kepda Bangsa Indonesia untuk memproklamirkan kemerdekaannya, kita mencoba menkaji hikmah dibalik tanggal yang dikeramatkan tersebut.

Makna Dibalik Angka 17
Angka 17, dibangun dari angka satu (1) dan tujuh (7) yang menggambarkan banyak hal penting. Pertama, angka 1 adalah angka Tuhan itu sendiri, yang menandakan keberadaan ke-Esa-an Tuhan agama-agama samawi. Sementara angka tujuh diistimewakan sehingga Tuhan menciptakan tujuh hari dalam satu putaran pekan dan langit dibuat berlapis tujuh.
Seorang ilmuwan Jerman terkemuka, Annemarie Schimmel yang terkenal sebagai ahli sufi Islam dan telah meneliti secara mendalam tentang rahasia angka-angka dalam dunia Islam dan peradaban manusia, dalam bukunya berjudul “The Mystery of Numbers” pada 1993 yang diterjemahkan dengan judul “Misteri Angka-angka dalam Berbagai Peradaban Kuno dan Tradisi Agama Islam, Yahudi dan Kristen” (Pustaka Hidayah, 2006), mengatakan: “Angka 7 telah memesona manusia sejak zaman dahulu kala. Angka ini dipercaya mengandung unsur magis paling tinggi,”
Tidak heran, catatnya, peristiwa-peristiwa penting di alam raya ini jatuh pada tanggal yang dibangun dengan kombinasi angka tujuh atau kelipatannya. Mislanya, 17 Ramadhan sebagai hari diwahyukannya al-Quran pertama kali, jumlah rakaat dalam lima waktu shalat sebanyak 17 kali dan sebagainya.
Demikianlah, angka melahirkan numorlog sejak Pythagoras (abad 6 SM), Plato (350 SM) hingga generasi Annemarie Schimmel (2000-an). Dalam khazanah keilmuan Islam juga dikenal Nabi Yusuf as, ahli perbintangan yang dengan hitungan angka-angkanya secara cermat dapat menentukan jatuhnya musim. Juga Imam Ghazali (tahun 1000-an) yang dapat menciptakan kombinasi angka-angka Arab dalam wifiq (rajah).
Sejarah panjang ilmu angka (numorlogi) membuktikan, dipercaya atau tidak, bahwa penggalian ilmu pengetahuan tentang hal ini memang sudah ada sejak dahulu kala. Di antara tafsir angka itu ada yang menyatakan: angka 1 mewakili karakter orang yang aktif, kuat, berinovasi, berbakat memimpin, sebaliknya angka 2 untuk mereka yang pasif, lemah dan suka sebagai pengikut.
Angka 3 cerdas, kreatif, beruntung, dan selalu berhasil, berlawanan dengan angka 4 yang bodoh, kurang kreatif, kurang beruntung, mudah gagal. Jiwa petualang namun rapuh ada pada angka 5, tidak akan dimiliki angka 6 yang sangat mapan. Kemisteriusan dan kesenangan menarik diri dari keramaian dunia milik angka 7, sangat berentangan dengan jiwa angka 8 yang senang terlibat urusan duniawi dan materialisme. Terakhir angka 9 yang mewakili hasrat pencapaian kestabilan mental & spiritual.
Atas dasar pertimbangan-pertimbangan keistimewaan angka 17 dan keyakinan mistis, Bung Karno yakin Indonesia hanya dapat keluar dari belenggu penjajahan pada tanggal 17, bukan di tanggal lain. Percaya atau tidak percaya, faktanya dengan fasilitas serba terbatas dan disiapkan dalam tempo semalam suntuk saja, pada pukul 04.00 WIB, saat fajar menyingsing, ketika waktu sahur puasa Ramadhan pada tanggal 17 Agustus 1945 berakhir, naskah proklamasi selesai ditulis dan dibacakan pada siang hari, pukul 10.00 WIB.


17 Agustus dan Bulan Ramadan
Tahun ini  tanggal 17 Agustus 2011 bertepatan dengan 17 Ramadhan 1432 H.
Lantas, apa hubungannya antara 17 Agustus dengan 17 Ramadhan?

Pada bulan Ramadhan, banyak terjadi peristiwa-peristiwa besar yang telah banyak merubah sejarah dunia, terutama bagi umat muslim. 17 Ramadhan misalnya. Pada tanggal itu terjadi peristiwa turunnya kitab suci Al Qur’an pertama kali (surat Al- Alaq 1 - 5) kepada nabi Muhammad SAW.  Kemudian di tanggal ini juga, umat islam pertama kali melakukan pertempuran besar dan berperang melawan musuh-musuhnya, yaitu orang-orang kafir Quraish. Perang itu kenal dengan nama Perang Badar. Nabi Muhammad SAW bersama pasukannya berhasil mengalahkan pasukan kafir Quraish yang jumlahnya tiga kali lipat lebih banyak. Peristiwa itulah yang membuat Islam kemudian dikenal luas hingga keseantero jazirah Arab dan menjadi tonggak awal dari pernyebaran Islam hingga sampai sebesar sekarang.
Bagaimana di Indonesia? peristiwa besar apa yang terjadi di negara Indonesia di bulan Ramadhan?
Sungguh luar biasa. Peristiwa terbesar bagi sejarah bangsa Indonesia terjadi tepat di bulan Ramadhan atau tepatnya antara tanggal 9 Ramadhan 1364 H (http://sejarah.kompasiana.com/2011/08/14/17-agustus-45-tidak-bertepatan-dengan-17-ramadhan/). Peristiwa dimana kita memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia kepada seluruh dunia. Tentu keterkaitan antara keduanya menjadi berkah tersendiri bagi bangsa Indonesia.  
Setelah perjuangan melawan penjajahan selama berabad-abad, dengan mengorbankan harta, jiwa dan raga, akhirnya kita berhasil memerdekakan diri. Ir. Soekarno dan Moch. Hatta mewakili bangsa Indonesia membacakan teks proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat. Sejak peristiwa itu, Indonesia menjadi negara merdeka dengan mimpi dan harapan bisa menjadi bangsa yang besar seperti yang diharapkan oleh para pejuang yang dulu mempersembahkan kemerdekaan.
Terdapat makna tersendiri dari beberapa peristiwa tadi bawasanya kendati sedang dalam bulan puasa Ramadhan, mereka (Nabi Muhammad beserta pejuang-pejuang lainnya) tetap terus berjuang tanpa mengenal lelah. Namun apa sebenarnya yang membuat mereka memiliki kekuatan sebesar itu padahal mereka dalam kondisi berpuasa?
Kepercayaan terhadap kekuatan Allah SWT adalah kunci utama dari keberhasilan perjuangan mereka.  Di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist dijelaskan bahwa barang siapa yang berjuang dijalan Allah, Allah akan selalu memberikan ridho dan kekuatan luar biasa dan tak terduga kepada mereka. Hal itu terbukti bagaimana 313 orang pasukan yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW dapat menumbangkan  1000 orang pasukan dari kaum kafir Quraish. Bagaimana para pejuang bangsa Indonesia dengan hanya menggunakan bambu runcing dan dengan segala keterbatasan bisa meraih kemerdekaan dan melawan penjajah yang nyata-nyata lebih kuat dan lebih hebat dari kita. Hal itu tidak akan mungkin terjadi tanpa bantuan dari-Nya. Mustahil! Alasan inilah krianya dalam dalam Pembukaan UUD 1945 tertulis, "Dengan berkat Rahmat Allah SWT…."  Sebagai ungkapan yang jujur  dan tulus dari kesadaran hati yang murni para Pahlawan kita bahwa Proklamasi 17 Agustus hanya bisa diperoleh atas berkat rahmat Allah SWT.

Tanpa rahmat, kasih sayang Allah SWT, sangat tidak mungkin kemerdekaan ini akan diraih. Jenderal mana yang berani bertaruh, bambu runcing bisa mengalahkan meriam? Ahli strategi perang mana yang berani menjamin bahwa tentara dadakan mampu bertempur dan menang melawan tentara Belanda yang profesional?

Para pejuang kita dahulu, yang walaupun tidak semuanya namun sebagian besar adalah umat Islam. Mereka sadar bahwa penjajahan di negeri ini merupakan ujian yang sangat ampuh untuk menempa keimanan kepada Allah SWT. Maka mereka selain bergerilya keluar masuk hutan membawa bambu runcing dan senjata seadanya, tapi mereka juga penuh dengan kesabaran, istiqomah, riyadloh, bermunjat, memohon kepada Allah SWT agar bangsa ini keluar dari cengkeraman penjajah.
Seiring dengan berjalannya waktu, kesabaran dan keistiqomahan para Pahlawan kita terus berjuang lahir maupun batin, fisik maupun psikis dan tentu hubungan vertikal, riyadloh, munajat dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT tak pernah henti. Kiranya Allah SWT mengabulkan dan meridhoi perjuangan serta munajat para Pahlawan kita. Tepat tanggal 17 Agustus 1945 Allah anugerahkan rahmatnya kepada bangsa Indonesia untuk memproklamirkan diri menjadi bangsa dan negara yang merdeka.
Mari kita ambil semangat tak pernah menyerah, kesabaran, keistiqomahan, serta riyadhah dan munjat yang sungguh-sungguh dari para Pahlawan kita, untuk membangun bangsa dan negara Indonesia tercinta ini, sesuai dengan porsi dan posisi kita masing-masing.
Pada kesempatan Bulan Suci Ramadhan ini pula, mari kita berusaha semaksimal mungkin untuk memerangi nafsu yang telah menjajah diri kita. Karena hanya dengan bermunajat dengan sungguh-sungguh (mujahadah) dan memperbaiki amal ibadah kita sehari-hari, nafsu dapat kita taklukkan untuk kita bawa meraih hidayah (petunjuk kebenaran) dan Ridha-Nya. (Imam Ghazali, Ihyaa ‘Ulumuddin)
Sehubungan dengan hal tersebut, Hadratul Mukarram Mbah Kyai H. Abdul Madjid Ma’roef QS wa RA, Mu’allif Shalawat Wahidiyah memberikan tuntunan dan mengintruksikan kepada seluruh Pengamal Shalawat Wahidiyah di mana pun berada untuk melaksanakan Mujahadah Waktiyah Memperingati Hari Kemerdekaan RI pada setiap tanggal 16 malam 17 Agustus. Mujahdah (pengamalan shalawat wahidiyah) tersebut dimaksudkan untuk mendo’akan seluruh pahlawan yang telah gugur memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, juga untuk mendo’akan seluruh bangsa dan negara Indonesia agar menjadi negara yang baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafuur.

اللهم بارك فيما خلقت وهذه البلدة ياالله ، وفى هذه المجاهداة ياالله
“Yaa Allah limpahkanlah berkah di dalam semua makhluq yang Engkau ciptakan, dan berkahilah pula negeri ini yaa Allah, dan berkahi pula mujahdah (doa) ini yaa Allah”




Wallaahu a’lam bish-shawab…

*)dari berbagai sumber

2 komentar:

  1. tahun 1945 = 1366 H

    BalasHapus
  2. mohon maaf, saya hanya menukil dari: (http://sejarah.kompasiana.com/2011/08/14/17-agustus-45-tidak-bertepatan-dengan-17-ramadhan/)

    terimakasih komennya

    BalasHapus