Bacalah Selalu Lisan Maupun dalam Hati "YAA SAYYIDII YAA RASUULALLAH"

Jumat, 21 Mei 2010

RASULULLAH SAW SEBAGAI SAKSI

Allah SWT berfirman:

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu”. (QS. al-Baqoroh; 2/143)

Firman Allah: syuhadaa-a 'alan naas sebagai saksi untuk manusia, maksudnya; Rasulullah SAW dan sebagian umatnya akan menjadi saksi di akherat kelak untuk manusia, juga untuk para Nabi terdahulu dan umatnya. Hal tersebut dinyatakan oleh sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhori RA dari Abi Said al-Khudri RA Rasulullah SAW bersabda:

“Nabi Nuh AS dipanggil menghadap dan Allah swt. bertanya: “Adakah sudah engkau sampaikan?”, Beliau menjawab: “Benar”. Maka Allah swt. bertanya kepada umatnya: “Apakah sudah sampai kepadamu?”, mereka menjawab: “Tidak ada satu peringatanpun yang datang”. Allah Ta’ala bertanya lagi: “Apakah engkau mempunyai saksi ?”, maka mereka menjawab: “Muhammad dan umatnya”. Kemudian Nabi SAW dan umatnya bersaksi bahwa sesungguhnya Nabi Nuh AS sudah menyampaikan. Dan jadilah Rasul menyaksikan kepada kalian.


Yang demikian itu adalah sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al Baqarah : 143 tersebut di atas. Ini merupakan peristiwa ghaib yang dikabarkan Allah SWT melalui al-Qur’an al-Karim, sebagai persaksian akan keutamaan umat Muhammad SAW dibanding umat Nabi terdahulu. “Keutamaan” yang dipancarkan melalui “keutamaan seorang Nabi yang Utama” sehingga umatnya menjadi “umat yang utama” pula.

Barangkali umat Nabi Muhammad SAW sendiri tidak pernah menyadari, bahwa fungsi kekholifahannya meliputi hak menjadi saksi bagi umat terdahulu bahkan Nabi mereka. Kalau yang demikian itu bukan Rasulullah SAW yang mengabarkan, tentu tidak ada orang yang mempercayainya. Namun ketika yang mengabarkan berita ghaib itu sebuah hadits shoheh, maka barangsiapa tidak percaya berarti tidak percaya kepada Allah SWT.

Kalau ada pertanyaan: “Bagaimana logikanya umat Nabi Muhammad SAW dapat menjadi saksi bagi umat sebelumnya, padahal sedikitpun mereka tidak pernah melihat kehidupan umat tersebut? Bukankah orang yang akan menjadi saksi harus melihat perbuatan yang akan disaksikan itu dengan mata kepala?”. Jawabnya: “Yang demikian itu menunjukkan apa yang disampaikan Allah SWT dengan wahyu-Nya (al-Qur’an) sungguh benar adanya. Karena hanya melalui al-Qur’an dan hadits, umat Muhammad SAW dapat mengetahui sejarah umat terdahulu tersebut.

Hikmah terpenting bagi kita atas fungsi Rasulullah SAW sebagai saksi bagi ummatnya adalah adanya sayafa’at Beliau untuk umatnya ketika wafat dan dalam yaumil mizan nanti.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
”Kubur adalah tempat persinggahan akhirat yang pertama. Barangsiapa yang selamat darinya, maka jenjang berikutnya akan lebih mudah. Dan barangsiapa yang tidak selamat darinya, maka sesudahnya akan lebih berat.”( HR. Ahmad, dihasankan oleh Syaikh al-Albani)
Di dalam kubur nantinya, seorang hamba akan ditanyai tiga perkara yaitu (1) siapa Rabbmu, (2) apa agamamu, dan (3) siapa nabimu. Seorang mukmin akan begitu mudah menjawab pertanyaan tersebut karena Allah-lah yang mengokohkan dia.

Adapun, orang munafik atau ragu dalam keimanannya akan berkata, ”Hah! Hah! Aku tidak tahu, aku mendengar manusia berkata demikian, aku pun ikut mengatakannya! Maka orang yang demikian akan dipukul dengan tongkat dari besi. Semua makhluk akan mendengarnya kecuali manusia. Seandainya manusia mendengar kejadian, sungguh mereka akan jatuh pingsan." (Kitab At-Tanbihaat al-Mukhtashoroh Syarh al-Wajibat al-Mutahattimat al-Ma’rifah ’ala kulli muslim wa muslimah, Ibrahim bin Syaikh Sholih bin Ahmad al-Khurashi, hal. 15)

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Qotadah, dari Anas bin Malik berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”
“Sesungguhnya seorang hamba apabila dimasukkan dalam kuburnya, dan para kerabatnya telah meninggalkannya, maka sungguh, dia akan mendengar bunyi (kepergian) sendal mereka.
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ”(Pada saat itu), dua malaikat mendatanginya, lalu mendudukinya, dan mengatakan padanya,”Apa yang kamu katakan tentang laki-laki ini (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)?” “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ”Adapun mu’min, dia akan menjawab,’Saya bersaksi bahwa dia (Nabi Muhammad SAW) adalah hamba Allah dan utusan-Nya.’
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Maka dikatakan padanya: “Lihat tempat dudukmu di neraka, sungguh Allah telah menggantimu dengan tempat duduk di surga.”
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Maka hamba tersebut melihat keduanya.”
( HR. Muslim, lihat pula Shohih Imam Bukhari)

“Setiap Nabi memiliki do’a (mustajab) yang digunakan untuk berdo’a dengannya. Aku ingin menyimpan do’aku tersebut sebagai syafa’at bagi umatku di akhirat nanti.” (HR. Bukhari no. 6304)

Maka tibalah saatnya kita harus ta’aluq bi janaabihi (menyambung hubungan / link) kepada Rasulullah SAW dengan memperbanyak membaca sholawat disertai rasa ikraaman (menghormat), ta’dhiiman (mengagungkan) mahabbatan (mencintai) serta syawqan (rindu yang mendalam). Tentu semua rasa tersebut harus kita aplikasikan dengan berusaha semampu kita untuk melaksanakan apa-apa yang telah dituntunkan (dirisalahkan) oleh Rasulullah SAW.

Dengan demikian kita yaqin, jika nur nubuwwah telah tertancap dalam hati kita maka nur ilahiyyah pun akan terpancar dalam hati kita. Sehingga dalam kehidupan kita sehari-hari senantiasa terbimbing oleh tuntunan Rasulullah SAW (lil Rasul wa bil Rasul) juga atas dasar petunjuk-petunjuk (hidayah) Allah SWT (Lillah wa Billah). Maka umat yang telah terbimbing oleh tuntunan Nabi Muhammad SAW ini yang pantas disebut sebagai umat Muhammad SAW. Umat yang dijamin oleh Allah SWT masuk surga-Nya karena mereka akan dibela dan ditolong (syafa’at) oleh seseorang yang paling dicintai Allah SWT, yakni Baginda Agung Rasulullah SAW.

Ash sholaatu wassalaamu ‘alaika wa ‘alaa aalaika yaa sayyidii yaa rasuulallah.
Yaa syafi’al khalqi habiballahi, sholaatuhu ‘alaika ma’salaamihi
Dlollat wa dlollat hiilatiy fii baldatiy, khudzbiyadiy yaa sayyidii wal ummati


Semoga kita termasuk dalam golongannya orang-orang yang mencintai Rasulullah SAW. Amiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar